![]() |
| (Dr. Ir. Firman Hidayat, M.T., resmi pimpin MET Sumbar, pelantikan di Auditorium Istana Gubernuran Sumbar) |
Padang, – Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatra Barat secara resmi dilantik, Jumat (6/2/2026), di Auditorium Istana Gubernuran Sumbar. Pelantikan ini menandai komitmen baru dalam mengawal transisi energi bersih di provinsi yang kaya potensi, tetapi juga sarat tantangan sosial dan ekologis.
Dipimpin oleh Dr. Ir. Firman Hidayat, M.T., seorang forester senior dari Universitas Muhammadiyah Sumbar (UMSB), kepengurusan METI Sumbar diharapkan menjadi think tank dan mitra kritis pemerintah daerah. Pelantikan ini disaksikan langsung oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, serta jajaran pemerintah dan pelaku sektor energi.
Tantangan Nyata di Lapangan
Ketua METI Sumbar, Firman Hidayat, mengakui tantangan utama yang dihadapi, yaitu penolakan masyarakat. Ia menyebut setidaknya ada dua kasus penolakan terhadap proyek EBT yang bersumber dari kekhawatiran masyarakat adat akan hak ulayat dan kerusakan lingkungan.
“Kita harus berani ambil sikap. Tapi sebelum itu, edukasi dulu ke masyarakat. Sampaikan apa itu energi surya, apa itu panas bumi. Dan yang utama, hargai tanah ulayat. Selagi tanah itu tanah kaum, pakailah dengan cara yang tidak memutus kepemilikan komunal khas Minangkabau ini,” tegas Firman.
Pernyataan ini sejalan dengan keprihatinan Gubernur Mahyeldi yang heran mengapa panas bumi ditolak di Sumbar, padahal di daerah seperti Kamojang justru menguntungkan masyarakat. “Penolakan sering lahir dari informasi yang tidak utuh,” ujar Gubernur.
![]() |
| (Dukungan Gubernur Mahyeldi kehadiran METI Sumbar sebagai ruang penjernihan informasi publik tentang Energi terbarukan) |
Visi dan Strategi dari Tingkat Pusat
Zulfan Zahar, Ketua METI Pusat, dalam sambutannya menyatakan bahwa METI Sumbar adalah pengurus wilayah kedua dari 18 wilayah yang akan diresmikan. Ia memiliki visi besar agar METI tak hanya jadi lembaga wacana, tetapi menjadi “KADIN-nya energi terbarukan” yang menghubungkan bisnis, kebijakandan komunitas.
“Pelaku transisi energi ke depan adalah anak-anak muda. Mereka harus disiapkan sejak sekarang,” ujar Zulfan, menggarisbawahi program METI Energi Muda yang akan digulirkan di 20 kampus.
Program ini mencakup seminar, mentoring, coaching, hingga pelatihan ke luar negeri untuk menyiapkan Green Jobs dengan potensi penghasilan hingga Rp 1,7 juta.
Namun, Zulfan juga mengingatkan ancaman serius. Hasil diskusi di kampus menyebut sekitar 28 perusahaan energi di Sumatra dicabut izinnya pasca bencana ekologis. “Ini sinyal ada masalah serius dalam pengelolaan dan iklim investasi. METI harus jadi penjaga akal sehat,” tegasnya. Ia meminta METI Sumbar khususnya mengawasi ketat pembangunan PLTA berkapasitas 111 MW di Sumbar agar tidak memicu longsor.
Komitmen pada Lingkungan dan Ekonomi
Firman Hidayat menegaskan bahwa komitmen METI Sumbar tidak bisa ditawar: lingkungan adalah nomor satu. “Ekonomi nomor tiga. Tidak mungkin investor menanamkan triliunan rupiah tanpa mempertimbangkan risiko lingkungan, karena mereka juga kena sanksi dunia,” ujarnya.
Di sisi lain, kebutuhan investasi sangat mendesak. Pertumbuhan ekonomi Sumbar yang tercatat hanya 3%, terendah di Sumatra, membutuhkan dorongan. “Potensi investasi EBT di Sumatra mencapai 220 triliun. Sumbar butuh itu. Tidak ada cara lain selain menarik investor yang bertanggung jawab,” kata Firman.
Dukungan Gubernur : Sinergi dan Pengawasan
Gubernur Mahyeldi mendukung penuh kehadiran METI Sumbar sebagai ruang penjernihan informasi publik. Ia berharap METI dapat membantu mewujudkan cita-cita Sumbar sebagai Green Province, dengan memanfaatkan seluruh potensi EBT secara benar.
Dengan struktur kepengurusan yang lengkap dan dukungan dari pusat, METI Sumbar kini siap menjalankan peran ganda: sebagai mitra pemerintah dalam menyusun kebijakan dan RTRW yang pro-EBT, sekaligus sebagai pengawal masyarakat yang memastikan setiap proyek energi bersih berjalan transparan, adil, dan berkelanjutan.
Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pernyataan sikap bersama bahwa transisi energi di Tanah Minang harus dikawal dengan ilmu, keberanian, dan keberpihakan pada masa depan lingkungan serta generasi muda. (Aldi)

