Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diasuh Generasi Penerus, Berkolaborasi dengan Kampus: Darul Ulum Padang Magek Jaga Khittah 1942 di Era Kekinian

Jumat, 06 Februari 2026 | Februari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-02-06T03:53:25Z
(H. Ampera Salim, pesantren telah memulai kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi di Sumatera Barat)



Padang Magek, - Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggoyang pondasi pendidikan tradisional, Pondok Pesantren Darul Ulum di Padang Magek justru berdiri tegak bagai batu karang. Lebih dari delapan dekade setelah didirikan Tuanku Salim Malin Kuniang pada 1942, pesantren salafiah ini bukan hanya bertahan, tetapi berkembang dengan memegang teguh khittah (prinsip dasar) sambil merangkul kemajuan secara elegan. Kunci utamanya terletak pada kepemimpinan yang terjaga, metode pembelajaran yang tak lapuk dimakan zaman, dan komitmen untuk membuka pintu masa depan yang lebih luas bagi para santri.

Di bawah asuhan penerusnya, Buya H. Jakfar Tuanku Imam Mudo, Darul Ulum tetap setia pada jantung pendidikannya: pengkajian kitab kuning secara intensif dan otentik. Di sini, para santri ditempa untuk mahir membaca dan mengurai makna teks Arab klasik gundul (tanpa harakat).

“Ini bukan sekadar membaca, tetapi melatih logika, ketelitian, dan kedalaman pemahaman. Metode ini warisan intelektual yang telah membentuk ulama-ulama besar,” ujar Buya Jakfar dalam suatu kesempatan. Metode inilah yang kerap menjadi bahan studi para peneliti pendidikan Islam, karena efektivitasnya dalam mencetak santri yang memiliki dasar keilmuan Islam yang kokoh.

Namun, kekokohan tradisi tidak berarti menutup diri. Keunggulan lain yang menjadi kebanggaan pesantren adalah model pendanaannya yang berakar pada kearifan lokal. Dengan biaya pendidikan yang sangat ringan dan mengandalkan sistem gotong-royong warga serta donatur, Darul Ulum memastikan bahwa pendidikan agama berkualitas dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa terkecuali anak-anak dari keluarga kurang mampu.



“Prinsipnya, jangan ada yang tidak mengaji karena alasan biaya. Jika ada yang kesulitan, kita urus bersama melalui dana sosial pesantren dan bantuan masyarakat,” jelas H. Ampera Salim, salah seorang pengurus pesantren.

Harmoni dengan masyarakat tidak berhenti di situ. Pesantren ini juga memiliki tradisi unik bernama “mamakiah”, sebuah praktik di mana santri menjalin hubungan sosial layaknya dengan seorang mamak (paman dalam sistem kekerabatan Minang). Tradisi ini mengajarkan santri nilai kemandirian, etika bermasyarakat, dan memperkuat simpul silaturahmi antara pesantren dengan komunitas di sekitarnya.

Langkah paling progresif untuk menjawab tantangan masa depan datang dari inisiatif membangun jejaring dengan perguruan tinggi. H. Ampera Salim mengungkapkan, pesantren telah memulai kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi.

“Kami ingin memastikan bahwa setelah para santri matang dengan ilmu agamanya di sini, mereka memiliki jalur yang mulus untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dengan biaya yang tetap terjangkau. Ini komitmen kami untuk membentuk generasi yang alim sekaligus berpengetahuan luas,” papar Ampera.

Kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dari relevansi pesantren di era modern. Darul Ulum tidak lagi dipandang sebagai menara gading yang terisolasi, melainkan sebagai pusat pembinaan karakter dan keilmuan yang terintegrasi dengan ekosistem pendidikan nasional.

Dengan kombinasi antara menjaga akar tradisi yang kuat, dipimpin oleh generasi penerus yang mumpuni, dan membuka diri pada kolaborasi strategis, Pesantren Darul Ulum Padang Magek membuktikan bahwa pesantren salaf bukanlah institusi usang. Ia adalah lembaga hidup yang terus bernafas, bertransformasi, dan dengan teguh mencetak generasi berilmu luas, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi di masyarakatnya, kini dan nanti.
×
Berita Terbaru Update