![]() |
| (Andi Mulya menerima sertifikat dari Ampera Salim, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek) |
Pada Tahun 1994, ia diterima sebagai calon wartawan ekonomi dan ditempatkan di desk transportasi. Di Wisma Bisnis Indonesia, Slipi Jakarta Barat Ia bekerja bersama rekan wartawan senior seperti Aidikar M. Saidi, Erwin Nurdin, Pudji Lelono, dan Ali Cestar saat itu.
Bersama mereka, Andi mengejar berita-berita besar mulai dari penahanan kapal Pertamina, kasus tunggakan avtur Sempati Air, hingga jatuhnya pesawat SilkAir di Banyuasin. Meski tekun dan cerdas, saat itu karirnya belum terasa pas.
"Belum diterima bukan karena kinerjanya buruk. Ibarat kepingan teka-teki, dia belum ketemu pasangannya," kenang P. Sri Fajar, Dirut Penerbit Javamedia dan kolega lama Andi Mulya.
Andi kemudian melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Lulus S2 Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, lalu meraih gelar doktor Pendidikan Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta. Andi pun memimpin Pusat Kajian Olahraga dan Media, menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi, serta menulis sejumlah buku termasuk Ensiklopedia Olahraga Indonesia.
![]() |
| (Andi Mulya (kanan) saat menyerahkan dua buku kumpulan tulisan di Mak-adang.com kepada Prof Hanif Nurcholis, pakar pemerintahan daerah) |
Penghargaan 40 Tahun Berkarya
Pengakuan negara atas dedikasi panjang merawat khazanah sastra datang lewat Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 163/BANPEM.BPPB/G/05/2026 tertanggal 26 Mei 2026.
Andi secara resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima Apresiasi 40 Tahun Berkarya Bidang Sastra.
Di tengah arus media digital yang serba cepat namun sering mengabaikan mutu, ia mendirikan situs www.mak-adang.com. Portal ini kini menampung lebih dari 1.600 tulisan, mulai dari esai, kajian budaya, hingga parodi jenaka yang menyampaikan kritik sosial dengan gaya bahasa Minang yang akrab di telinga.
"Sastra Minang bagi orang awam sekadar hiburan. Tapi bila dimengerti, di dalamnya ada gagasan, kritik dan konteks peristiwa nyata saat itu," ujar Andi saat seminar di Pondok Darul Ulum, Batusangkar.
Perjalanan hidupnya tak ubah cerminan dari tokoh-tokoh besar asal Tanah Minang seperti Marah Rusli, Hamka, hingga A.A. Navis. Kini nama Andi Mulya berdiri sebagai wajah baru sastra Minang yang relevan di era modern. (Aldi/AS)

