![]() |
| (KJI Sumbar audiensi terkait Inflasi dengan Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram) |
Padang – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat menyatakan bahwa stabilitas moneter tahun 2026 menghadapi tantangan kompleks. Dalam pertemuan terkait Inflasi di Sumbar, dengan Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) di kantor BI Jalan Sudirman. Hadir dalam pertemuan ketua DPW KJI Sumbar Peter Prayuda, Angga (Sekretaris) dan Sari (bendahara) Rinaldi Munir, Pitri, Puput, Niko. Alizar.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, serta timnya memaparkan dua tekanan utama yang menjadi fokus kebijakan: pelemahan nilai tukar rupiah akibat capital outflow dan tekanan inflasi dari sisi biaya (cost-push inflation) karena kenaikan harga komoditas global. Kamis (7/5/2026),
Capital Outflow dan Suku Bunga
Majid menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tekanan terbesar saat ini. Terjadi arus keluar dana asing signifikan dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing menarik dananya karena membandingkan interest rate margin antarnegara. Meski suku bunga Indonesia masih menarik, risiko global seperti konflik dan ketidakpastian ekonomi mendorong investor mencari aset lebih aman.
Pelemahan rupiah pun meningkatkan biaya impor bahan baku kritis, terutama bahan baku obat, plastik, dan turunannya dari minyak mentah. Menanggapi hal ini, BI terus menjaga BI Rate pada level terukur. "Kami jaga suku bunga tidak serta-merta dinaikkan karena akan membebani sektor riil. Pelaku usaha akan kesulitan investasi dan kredit," jelas Majid.
Imbas untuk bisnis: Perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku plastik dan kimia farmasi harus bersiap menghadapi lonjakan biaya produksi. Sebaliknya, sektor ekspor berpotensi untung dari pelemahan rupiah asalkan rantai pasok domestik tetap stabil.
Guncangan Harga Pangan dan Energi
Dari sisi inflasi, BI mengidentifikasi dua pemicu utama per Mei 2026. Pertama, kenaikan harga pangan akibat gangguan distribusi dan panen di sejumlah daerah yang memicu lonjakan komoditas pokok. Kedua, tekanan energi global: harga minyak mentah dunia yang terus naik berdampak pada harga bahan bakar dan plastik, langsung membebani biaya operasional manufaktur dan logistik.
"Bayangkan, plastik yang kita konsumsi sehari-hari berasal dari minyak. Begitu minyak naik, semuanya ikut naik. Para pengusaha mulai teriak karena bahan baku susah dan mahal," ungkap salah satu perwakilan tim BI.
Tiga Poin Penting untuk Pelaku Ekonomi dan Bisnis di Sumbar :
Pertama, Waspadai volatilitas rupiah. Perusahaan dengan utang valas atau ketergantungan impor perlu melakukan hedging atau mencari alternatif bahan baku domestik.
Kedua, Efisiensi dan inovasi. Tekanan biaya produksi tak terhindarkan. Fokus pada efisiensi rantai pasok dan peningkatan produktivitas menjadi kunci.
Ketiga, Peluang sektor ekspor : Pelemahan rupiah bisa menjadi berkah bagi eksportir komoditas dan produk jadi dari Sumatera Barat, asalkan mampu memanfaatkan celah pasar global.
Majid menegaskan Bank Indonesia Sumbar komitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha melalui kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif namun tetap hati-hati. (Aldi)

